Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kedaulatan tidak serta merta berakhir. Salah satu isu terpanjang dan paling menantang dalam sejarah diplomasi dan militer Indonesia adalah sengketa mengenai status Irian Barat (sekarang Papua dan Papua Barat). Wilayah yang terletak di ujung
Budaya adalah konsep yang sangat luas, bahkan para rekan sejawat dalam bidang sosiologi dan antropologi tidak memiliki definisi yang tetap mengenai istilah ini. Dalam bidang sosiologi, budaya didefinisikan sebagai kumpulan semua ide, keyakinan, perilaku, dan produk yang umumnya dimiliki dan dibuat oleh kelompok-kelompok sosial untuk
Pemerintah kolonial Belanda, tahun 1800an, ingin membentuk citra kolonial pada kota-kota di Hindia Belanda.[1] Adanya alun-alun merupakan bagian pusat kota tradisional yang penting, sehingga dapat dipakai sebagai modal awal untuk membentuk citra tersebut. Keberadaan alun-alun dimunculkan sebagai pusat administrasi serta kontrol pemerintahan. Tapikal ibukota kabupaten
Sejarah Indonesia pada abad ke-17 hingga akhir abad ke-18 tidak dapat dipisahkan dari peran sentral VOC. Singkatan dari Vereenigde Oostindische Compagnie (Perserikatan Dagang Hindia Timur), yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602. VOC awalnya merupakan sebuah perusahaan kongsi dagang Belanda. Namun, dalam perjalanannya, perusahaan ini
Pada pertengahan abad ke-17, Kesultanan Mataram berdiri sebagai kekuatan dominan di Pulau Jawa. Di bawah pimpinan raja terbesarnya, Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645), kerajaan ini telah menaklukkan hampir seluruh pulau. Surabaya, Madura, Pasuruan, dan sebagian besar Jawa Barat telah tunduk. Mataram adalah imperium agraris yang kaya
Kehidupan Keluarga dan Masa Kecil Hok Gie Soe Hok Gie lahir tanggal 17 Desember 1942 di Jakarta, dari pasangan Soe Lie Pet alias Salam Sutrawan dan Nio Hoe An alias Maria Sugiri. Soe Lie Pet merupakan penulis dan redaktur berbagai surat kabar seperti Tjin Po,